Feeds:
Posts
Comments

Archive for September, 2007

Tarif jalan tol naik. Apakah kualitas dan kuantitas infrastruktur pendukungnya juga naik? Entahlah. Saya sendiri jarang menggunakan jalan tol. Bukan apa apa, tapi memang bisa dikata saya hampir tidak pernah keluar kemana-mana. Sekalinya keluar, juga lebih banyak di jalan reguler (bukan tol).

Beberapa hari ini saya mencoba mencari di Headline suratkabar dan majalah yang juga diterbitkan secara online. Tapi sepertinya tarif tol yang naik ini bukan berita besar. Kalaupun muncul, hanya sekilas lalu saja. Tidak ada opini dan pemberitaan yang meluas mengenai ekses kenaikan. Paling juga berita tentang banyaknya uang kembalian sebesar Rp. 6.000 yang tidak diambil kembali oleh para pengguna jalan tol. Itu saja.

Ah, mungkin karena pengguna jalan tol yang bermobil seharga lebih dari seperempat milyar itu jauh lebih banyak daripada mereka para pengguna setia angkutan umum. Jadi kenaikan yang hanya sekian ribu rupiah itu sama sekali tidak mengurangi anggaran biaya belanja mereka di banyak Mall di Jakarta dan sekitarnya (maksudnya, Singapura, Kualalumpur, Bangkok, dan lain sebagainya). Dengan demikian, mereka tidak perlu ngomong ini itu di media massa.

Kalau mereka para pekerja kantoran yang keringetan berdesakan di bus kota, mana pernah opini dan komentar mereka ditulis secara bombastis di media massa. Inilah faktor “Who” (who’s speaking, who’s acting…??”)

Sambil bernada mengejek, saya sempat berkomentar ketika mendengar ‘perempuan tercinta saya’ mengeluh tentang tarif tol yang katanya bukan kebijakan yang populer dan sama sekali bukan pada waktu yang tepat. Tarif tol naik, otomatis akan diikuti dengan kenaikan tarif bus kota, sementara bulan puasa sudah tinggal menghitung hari saja. Notabene, harga sembako naik. Setelah puasa dan lebaran, diikuti dengan Natal dan Tahun baru. Dengan tarif bus kota yang sekarang saja, (menurut dia) sama sekali tidak seimbang dengan kualitas pelayanan yang didapat.

“Itulah putusan gubernur pilihanmu. Lihat saja, apa ke depannya dia akan kembali mengeluarkan kebijakan semelekethe lagi. Kebijakan yang sama sekali tidak melihat akibatnya secara komprehensif terhadap masyarakat Jakarta.”

Padahal keputusan naiknya tarif tol ini bukan lantaran gubernurnya baru. Tapi lontaran ketus saya itu muncul karena saya masih kesal juga. Dia memilih gubernur lebih karena faktor partai. Yaah, meskipun memang dua kandidat gubernur kemarin (menurut saya) tidak ada yang begitu pas, tetapi pemilihan gubernur dengan hanya memandang partai yang mengusung dia saja menurut saya bukan alasan yang baik.

Jadi, memang lebih baik ada calon independen non-partai. Jadi kita melihat dan menentukan pilihan karena memang si calon itu adalah pilihan terbaik dari yang ditawarkan. Kalau apatis dengan semua calon? Ndak usah datang ke bilik suara saja, dan bisa mencemooh tanpa beban. Seperti saya.

Hahahaha….

Advertisements

Read Full Post »

Nama BII dicatut?

Masih nyambung soal lowongan kerja yang ASPAL (Asli tapi Palsu).

Di situs Jobislands.com ada informasi lowongan kerja dari Bank BII, http://www.jobislands.com/2007/09/job-vacancy-bank-internasional.html

Sunday, September 2, 2007
                         Job Vacancy (BANK INTERNASIONAL INDONESIA)

Job Vacancy (BANK INTERNASIONAL INDONESIA)
Karir
Posisi Yang Tersedia
1. CUSTOMER SERVICE ( CS )
2. MARKETING / RELATIONSHIP OFFICER ( MO / RO )
3. TELLER ( TL )
Bank NISP saat ini membuka kesempatan kerja untuk posisi :
CUSTOMER SERVICE ( CS )
    Persyaratan :
• S1 semua jurusan minimal IPK 2.75 (Skala 4.00)
• Berpenampilan menarik, luwes dan mampu berkomunikasi secara
efektif
• Berintegritas tinggi, proaktif, ulet, memiliki jiwa melayani
dan kemampuan menjual
• Pria / wanita usia maksimal 27 tahun
MARKETING / RELATIONSHIP OFFICER ( MO / RO )
    Persyaratan :
• S1 semua jurusan minimal IPK 2.75 (Skala 4.00)
• Memiliki kemampuan dalam menganalisa target pasar, persuasif
dan memiliki kemampuan dalam memberikan impact terhadap orang lain
• Memiliki customer base yang luas dan terpercaya
• Menguasai bahasa asing / bahasa daerah merupakan nilai tambah
• Pria / wanita usia maksimal 28 tahun
TELLER ( TL )
    Persyaratan :
• D3 semua jurusan, minimal IPK 2.5 (Skala 4.00)
• Pria / Wanita, usia maksimal 27 tahun
• Mempunyai pengalaman sebagai kasir, lebih diutamakan bila
berpengalaman sebagai teller di bank.
• Mampu berkomunikasi dengan luwes, ramah, dan teliti
Persyaratan umum :
Memiliki kompetensi yang tinggi dalam hal Integrity, Customer
Orientation Organizational Commitment, Achivement Orientation.
Kirimkan lamaran CV, foto terbaru, transkrip nilai, serta cantumkan
kode lamaran di sudut kiri atas amplop paling lambat dua minggu
setelah iklan ini terbit, ditujukan kepada :
PT BANK INTERNASIONAL INDONESIA TBK                                                 
Bank NISP Tower
Jl Mbah Dr Satrio kav 25
Jakarta
12940

Atau
bank.internasional.indonesia@gmail.com

Kejanggalan yang terlihat:

  1. Kok alamat pos nya: Jl. Mbah Dr Satrio kav 25 Jakarta. Ini guyonan bener deh
  2. Email yang dipakai: bank.internasional.indonesia@gmail.com kenapa tidak memakai domain bankbii.com?

Saya coba cross check ke Customer Care Bank BII melalui telepon di 021-78869811. Si penerima telepon ternyata tidak mempunyai akses untuk menghubungkan saya ke bagian HRD. Tapi, informasi yang saya dapat, proses perekrutan karyawan BII menggunakan alamat email : recruitment@bankbii.com dan HRM-REL@bankbii.com. Karena tidak bisa bicara langsung dengan bagian HRD, saya coba untuk mengirim email ke HRM-REL@bankbii.com namun hingga detik ini belum ada balasan.

Read Full Post »

Lowongan kerja ASPAL

Setelah menulis No Future in “Futures”, sampai hari ini saya masih tergoda untuk lanjut menjelajah tulisan yang berkaitan dengan itu. Comment yang ada di blognya ryosaeba ternyata terus juga bertambah dan meluas. Comment dari tamu blognya ryosaeba semakin menguatkan dugaan saya mengenai indikasi pemalsuan identitas perusahaan seperti yang dilakukan MAXGAIN terhadap HERO. Hanya saja yang dilakukan sekarang, tidak lagi mencatut nama perusahaan lain, tetapi memang menciptakan perusahaan fiktif dengan hanya bermodal email gratisan dari Yahoo!, gmail, dan lainnya.

Lowongan yang mereka pasang di sekian banyak situs lowongan kerja juga sudah tidak lagi mencantumkan istilah yang saat ini mudah ditebak seperti “Account Executive” dan “Management Trainee”. Tapi sudah lebih spesifik lagi seperti, yaah let’s say, “Web Designer”, atau “Java Programmer”, atau ” Accounting Staff”.

Hal ini saya pikir lumayan membingungkan. Para pencari kerja jadi bertanya tanya, “ini lowongan betulan atau cuma bikinan orang-orang dari perusahaan acakadut kayak MaxGain atau Graha Finesa?”
Dalam hal ini, saya pikir pengelola situs lowongan kerja tidak bisa disalahkan. Toh mereka hanya sebatas menyediakan ruang di situs, terlepas dari apakah lowongan yang diiklankan betul atau tidak. Perusahaan macam ini saya kira tidak bodoh juga. Ketika nama perusahaan sudah dikenal luas karena keburukannya, maka mereka mengganti nama dan (atau) pindah kantor.

So, menurut saya, antisipasi awal saat mencoba apply lewat situs lowongan kerja adalah dengan memperhatikan dan mencari tahu lebih dulu tentang perusahaan yang dimaksud. Google dan Yahoo! siap membantu 😀 . Hal ini cukup berguna, selain bisa mengecek validitas perusahaan, kita juga bisa mengetahui lebih banyak tentang bidang usaha perusahaan tersebut sehingga bisa lebih siap menghadapi interview.

Yang juga perlu dicermati adalah, apakah email yang digunakan ‘terlihat’ resmi atau tidak. Email dengan domain namaperusahaan.co.id jauh lebih meyakinkan ketimbang email gratisan. Seperti pada kasus MaxGain VS HERO, jelas jelas nama besar HERO sudah dicatut secara tidak bertanggung jawab. Dan domain email lah yang menjadi pembeda. Meski email dengan domain namaperusahaan juga tidak menjamin (MaxGain juga punya domain .co.id), setidaknya ini bisa menjadi filter awal. Email gratisan tetap perlu lebih diwaspadai.

Sebenarnya toh tidak begitu rugi buat anda yang sudah terlanjur apply. Apalagi kalau memang mendapatkan akses internetnya gratisan (seperti saya :D). Tapi yang mengesalkan adalah, jelas bakal bosan dengan telepon panggilan untuk interview yang (besar kemungkinan) lebih dari satu kali dari perusahaan acakadut seperti itu. Dan..penyesalan ketika mengetahui email dan data yang kita kirim sia-sia belaka. . Apalagi kalau mengirim email dari warnet, duit dan waktu yang terbuang percuma.

Yang namanya penjahat, selalu mencari celah dengan modus operandi baru. Tetap ada kemungkinan nantinya para perusahaan acakadut itu menggunakan sistem dan modus baru dengan hasil akhir tetap sama. Jadi ya, jangan pernah kehilangan kewaspadaan.

* ada yang mau menambahkan?

Read Full Post »

Eksistensi (??)

Sore kemarin Mbak Intan, koordinator untuk satu Client di Bogor- datang. Saya pikir dia akan datang siang, tapi ternyata lumayan sore juga. Ndak tahu aslinya dia datang jam berapa, yang jelas dia baru masuk ruangan saya sekitar jam 4 sore. Setelah ngobrol sebentar dan menanyakan report yang diminta, dia langsung saja bilang, “Mas, buka internet ya,”
“Lho.. ya monggo,”

Lalu sambil browsing, dia cerita kalau laptop suaminya lagi ndak bisa buat browsing. Padahal sudah terhubung dengan jaringan penyedianya. Dari penjelasannya sih, kesimpulan awal saya, laptop suaminya itu kena virus. Tapi rasanya itu hanya cerita sekilas lalu saja karena dia tetap asyik menjelajah. Sesekali dia ngomong sendiri. Saya cuma bisa senyum-senyum. Sampai akhirnya dia dengan setengah berteriak ngomong: “Lha..kok restricted sih? Kalo kayak gini trus gimana?”

Ternyata dia lagi buka halaman friendster milik temannya. “Wah, ya kalo mau bisa buka, mesti jadi temennya dulu mbak.” Lalu dengan manggut-manggut masam dia melanjutkan jelajah internet.

“Mbak Intan ikutan di friendster gak?”
“Nggak. Aku cuma suka buka friendster-nya temenku aja, kalo lagi kangen atau pengin tahu kabar tentang dia.”
“Ooh..”
……………..
“Apa sih untungnya ikut friendster?”
“Hhmm.. apa ya? Pengakuan terhadap eksistensi kali’ mbak,”
Dia tertawa.
“Eksistensi..emang selama ini ga eksis?”
“Hahaha…boleh jadi seperti itu. Atau, pengakuan atas eksistensi diri dirasa masih kurang, jadinya ditambah gitu,”

Betul kah? Memperkuat eksistensi dengan berusaha mendapat tempat juga di dunia maya, itukah alasan mendasar para anggota friendster? Saya jadi mikir, apakah saya juga beralasan seperti itu? Setelah bergabung di komunitas friendster sejak 3 tahun lalu, apakah eksistensi saya memang sudah diperkuat? Apa yang digunakan sebagai alat pengukur? Apakah jumlah teman yang sudah terdaftar di jaringan? Apakah dengan banyaknya isian testimonial?

Sampai sejauh ini, baru ada satu teman yang lebih mengedepankan kualitas ketimbang kuantitas. Sekali waktu, dia menulis di bulletin friendster, yang intinya: teman yang tidak pernah aktif berkomunikasi akan dihapus dari daftar teman miliknya. Wah..
Awalnya saya berpikir, ini orang sok seleb banget. Tapi paham juga sih maksudnya bagaimana. Salut.

Sayangnya, saya melihat kecenderungan adanya pemaksaan halus juga untuk mendapatkan pengakuan melalui testimoni, meski yang ditulis sekedar: “Hai, thx for the add”, atau “piye kabare..??”. Pemaksaan ini biasanya diwujudkan dalam kalimat: “testi balik ya,”

Pemaksaan halus seperti itu juga saya lihat di dunia blog. Di beberapa blog yang saya kunjungi, ada beberapa tulisan (biasanya di shoutbox) seperti: “tukeran link yuk..”. Dengan kata lain, si penulis sepertinya mau ngomong: “aku sudah pasang link ke blogmu di blogku, jadi kamu juga harus pasang link di blogmu ke blogku.”

Halah..

*bagi saya, nge-blog memang karena ingin menulis. Mendokumentasi apa yang dipikir, baca, dengar, dan lihat. Itu saja.

Read Full Post »