Feeds:
Posts
Comments

Cakra Manggilingan

Hampir satu tahun tidak menulis disini. Belum persis 365 hari memang, tapi bertemu Desember lagi sudah.
Banyak sekali hal-hal besar terjadi selama setahun terakhir ini. Kehidupan memang berputar terus layaknya roda, Cakra Manggilingan. Sebagian orang, saya juga, kerap berpikir tentang perputaran roda dinamika hidup ini adalah masalah diatas dan dibawah. Masalah beruntung atau tidak, kaya atau miskin, sukses atau bangkrut hancur berantakan.
Setahun ini, ya saya mengalami naik turun itu, sengsara dan berjaya. Meski tentu dalam ukuran yang ditafsirkan orang per orang, karena bukankah segala hal di dunia itu relatif?
Bukan itu saja, apa yang setahun ini terjadi seperti bertolak belakang dengan banyak hal yang telah lewat. Berpindah bidang pekerjaan dan profesi, hidup di lingkungan dan geografi yang berbeda, melakukan ini itu menjadi berdua.. banyak sekali. Ada hal yang disukai, ada yang tidak. Dinikmati dan tidak.
Ketika melakukan refleksi tentang perjalanan hidup selama setahun terakhir ini awalnya saya merasa begitu banyak hal berubah memang. Namun kemudian saat berpikir ulang pada akhirnya segala itu bertemu pada satu titik, dimana selalu ada baik buruk, like and dislike.
Bagaimana menyikapi hidup pada apapun kondisinya, dimanapun posisinya, tergantung bagaimana kita bersikap terhadap Cakra Manggilingan ini.

Advertisements

Possessive

Sudah berapa lama sejak masa-masa itu? Dua tahun? Sungguh aku bahkan sulit untuk berkali-kali melacakmu lewat search engine macam Google, mengetikkan namamu, nickname yang biasa kau pakai, dan beberapa hal yang terkait denganmu. Kutuliskan keyword dengan tanda petik yang mengapitnya agar pencarian di mesin hebat itu menjadi lebih terarah ke dirimu.

Aku tahu, hasil pencarian akan menunjukkan banyak halaman yang justru menjadikanku sedih. Aku tahu akan muncul namamu dengan nama belakang lelakimu. Aku tahu, karena tentu saja halaman yang kutemui adalah halaman yang sama dengan yang kutemukan minggu lalu, bulan lalu, tahun lalu. Aku tahu, tapi aku tetap membuka halaman itu.

Aku menjadi gila. Tergila-gila tepatnya. Gila dan tergila-gila dengan imajinasiku sendiri tentangmu. Gila karena begitu mencemburui banyak hal yang muncul sendiri di dalam otakku, membuncahkan perasaan seperti dedaunan yang rontok di halaman. Aku gila karena terus menerus memikirkanmu yang entah apakah disana kau berpikir tentangku atau tidak. Tapi, ah.. sebenarnya itu tak penting untuk tahu bahwa kau memikirkanku atau tidak. Buatku, aku berpikir tentangmu. Itu saja.

Untuk kesekian kalinya aku kembali mencoba menyusuri tiap lorong ingatan yang pernah kita lewati. Mencari pintu manakah sebenarnya tempat kau menghilang. Melongok setiap jendela dengan harapan bisa kudapati sisa jejak sehingga dapat kucatatkan disini sebab alasan mengapa kita tak lagi bisa duduk berdua di bawah pohon rambutan yang daun-daunnya selalu berguguran karena hujan.

Kurasa memang aku terlalu pencemburu. Marah tanpa jelas kepada awan kelabu yang kau beri senyum lebar hanya sebab ia terbentuk selayaknya kambing dengan topi santa. Aku cemburu pada jam kecil metalik tanpa angka diatas mejamu yang selalu sukses membuatmu tergagap bangun. Aku cemburu membayangkan siapa lagi yang membacakanmu cerita tentang Sukab dan Alina persis sebelum dengkurmu pelan terdengar. Aku cemburu pada ketidakmampuanku memikatmu lagi dengan pelangi yang terpapar di celah gedung-gedung bertingkat. Aku cemburu pada pengharapanku yang tak juga berakhir ini.

untuk Laura Kristi Putri

Strategi Dalam Bekerja

“Aduh, belum selesai nih makalah gw!”
“Aaaaah, gw harus rapat nih, mana tugas belum selesai!”
“Sebentar lagi mau sidang, penelitian belum kelar!”
“Sepertinya lembur lagi, baru pulang jam 12 malam.”

Akhir-akhir ini saya sering mendengar kata-kata tersebut baik dari teman ataupun dari sahabat dekat. Mungkin hal ini juga sering dialami oleh kita semua atau teman-teman di sekitar kita. Baik diri sendiri yang mengalaminya maupun mendapatkan informasi dari orang lain. Terkadang, mereka yang terus bekerja terlihat mereka sangat pekerja keras. Mau melakukan banyak hal, padahal pada kenyataannya sebenarnya sedikit pekerjaan tetapi tidak efektif dalam pengerjaannya. Mereka yang seperti ini terlihat seperti seorang pekerja keras oleh orang lain, padahal bagi diri sendiri belum terlihat bahwa kita bekerja keras.

Saya juga termasuk dalam orang yang sedang belajar untuk menemukan strategi yang tepat dalam bekerja. Dalam kesempatan ini, saya akan membagi-bagikan tentang strategi dalam bekerja. Jika ada yang kurang, jangan segan-segan untuk memberi masukan. Karena ini termasuk dalam proses untuk belajar. Namun, dengan cara yang berbeda yaitu belajar sambil berbagi.
Bekerja efektif adalah doing the right things. Sedangkan bekerja efisien adalah doing things right. Baiklah, saya tidak akan berpanjang lebar untuk memperdebatkan tentang efektif dan efisien. Berikut ini adalah strategi-strategi yang dapat diterapkan dalam bekerja.

1. Set your goal

Sebelum kamu mulai bekerja, kamu harus tentukan tujuan kamu untuk bekerja. Tujuan ini akan menjadi landasan untuk terus-menerus menghasilkan karya setiap harinya. Buatlah target selama setahun. Lalu turunkanlah target-target tersebut menjadi target yang harus dicapai di tiap bulannya. Ini menjadi langkah awal bagi kamu untuk bekerja.

2. Buat timeline

Timeline akan menjadi waktu acuan untuk bekerja. Buatlah lama pengerjaan dan kapan deadline dari pengerjaan. Buatlah timeline berdasarkan kecepatan kamu dalam bekerja. Jika bisa dipercepat untuk selesai kenapa tidak?

3. Dahulukan apa yang harus didahulukan

Pemilihan mana yang penting dan mendesak sangat penting dalam bekerja. Cobalah untuk dahulukan apa yang harus didahulukan. Dan dahulukanlah hal-hal yang bersifat urgent yang harus segera diberikan solusi dan penyelesaiannya.

4. Increase your workspeed

Ini adalah kelanjutan setelah membuat goal dan timeline. Banyak orang yang diawal-awal justru bersantai-santai, pada saat sudah mendekati deadline barulah sibuk dan ketetaran. Untuk mengatasinya kamu harus bisa meningkatkan kecepatan kerja kamu. Jika pekerjaan yang seharusnya diselesaikan selama satu minggu tetapi bisa diselesaikan selama 2 hari bukankah bagus? Sehingga kamu bisa melakukan hal-hal yang lain seperti aktivitas organisasi, berkumpul dengan teman atau keluarga, atau sekedar refreshing. Saya sendiri sedang dalam tahap pembelajaran untuk bisa menerapkannya. Trust me, you will get benefit if you can increase your workspeed.

5. Be wise to use your Time

Waktu jangan dibuang-buang. Waktu tidak akan kembali lagi, dia akan pergi. Jangan main facebook atau twitter atau sosial media lainnya saat kamu sedang bekerja. Fokuslah, selama anda bekerja. Kalian akan bisa belajar dengan cepat dan juga bisa menggunakan waktu dengan lebih produktif.

6. Konsentrasi dan Cermat

Konsentrasi dan kecermatan juga penting. Jangan hanya mengandalkan “Yang penting selesai dengan cepat”. Pas tahu hasilnya justru malah mendapatkan hasil yang buruk. Konsentrasi dan kecermatan sangat penting. Konsentrasilah saat bekerja dan evaluasilah hasil pekerjaanmu secara cermat setelah bekerja.

7. Delegate

Delegasikan tugas ke tim-mu jika kamu bekerja dalam tim. Ini akan membuat pekerjaanmu menjadi lebih mudah dan menjadi lebih cepat selesai.

8. Anggap sebagai tantangan

Yes, it’s a challenge! , ini baru saya dapatkan dari seorang sahabat yang selalu menganggap setiap pekerjaan atau masalah bukanlah sebuah beban. Layaknya sebuah film, film akan menjadi lebih seru jika pemerannya menghadapi banyak tantangan. Begitu juga dengan kehidupan, tantangan itulah yang membuat seru kehidupan kita. Dan karena tantangan itulah, sikap dan karakter kita akan terasah menjadi lebih tajam. Jangan katakan “Terpaksa untuk dikerjakan”.

Ya mungkin itu yang bisa saya share tentang strategi bekerja menurut hemat saya. Saya sendiri masih dalam tahap untuk belajar menerapkannya dalam kehidupan. Yuk sama-sama belajar dan berkarya 

sumber : http://www.kennylischer.com/2012/01/strategi-dalam-bekerja.html

Pembacaan Terakhir

Sekian malam kau meminta,
“Bacakan aku cerita.”

Kubisikkan tentang jingga senja,
tentang Jazz dan langgam Jawa.
Terbata kubacakan,
tentang pelacur di kota tua,
tentang ciliwung yang mengalirkan bayi tanpa kepala.

Kau tertawa ketika kunyanyikan Dandhanggula.
Nyanyikan sekali lagi, akan kurekam suaramu hubby.
Suaraku tak merdu, kataku.
Tak apa. Jawabmu sambil tertawa,
aku senang mendengarmu bernyanyi.

“Bacakan aku cerita.” kau bilang.
Yang mana lagi? kuaduk seluruh catatanku.
Terserah, hari ini aku lelah. Lelah sekali,
aku butuh suaramu.
Gumam dalam isak yang pelan sekali.

Kumainkan anak rambutmu.
Memilinnya kecil sepenuh hati.
Bercerita tentang Negeri Senja dalam bayangan.
Hingga kudengar dengkuranmu pelan.

“Bacakan aku cerita.”
Sudah habis semua, baby.
Carikan lagi! teriakmu,
Bacakan aku cerita, untuk terakhir kali.

Jakarta, 10 Februari 2012

Semalam, tiba-tiba Tantry mentioned saya di akun twitter dan menanyakan apa kenal dengan Sazano. Oktarano Sazano. Ya, tentu ! Dia kawan, bukan sekedar teman. Meskipun dulu hanya kenal lewat mIRC di #cybersastra, meskipun saya belum pernah bertemu dengan dia secara langsung, saya menganggap dia kawan. Tak peduli dia menganggap saya seperti saya menganggap dia, seorang kawan, atau tidak.

Ingatan tentang Oktarano Sazano sudah agak samar-samar ketika Tantry menanyakan tentang dia. Satu hal yang langsung teringat adalah bahwa dia menulis Antologi Puisi berjudul Tristesse. Sebelum antologi puisi itu dipublikasikan dalam bentuk buku dan CD Interaktif, saya dikirimi draftnya, stensilan. Sazano minta saya untuk mengomentari puisi-puisi dalam antologi itu.

Dan saya ingat, waktu itu hanya tertawa kecut. “Ya, sini kirimlah dulu.” Dan saya beri dia alamat tempat tinggal di Jogja waktu itu. Saya cuma berkata dalam hati, “Aku bukan penulis puisi, dan tak tahu apa-apa tentang puisi. Bagaimana pula aku bisa mengomentari karya-karyamu?.” Tapi tetap saja saya minta dia kirimkan draft puisinya. Setidaknya bisa kukumpulkan bersama potongan-potongan karya teman-teman lain, dan kliping antah berantah. hehehe

Alih-alih jadi kritikus puisi, sampai detik ini pun saya tak mengomentari apapun kecuali waktu itu saya bilang, “Keren bro… kapan dicetak? Aku akan jadi pembeli pertama!”. Saya tak tahu apapun tentang puisi kecuali membacanya dengan lantang dalam intonasi yang sekedarnya saya pahami. hahaha.

Tapi waktu itu, saya dan Dodo, Widodo Andy Paminto, pun tetap membacanya berulang-ulang puisi karya Sazano itu. Mencoba memahami setiap kata yang ada didalamnya untuk mendukung romantisme picisan a la mahasiswa waktu itu. Hingga kami satu persatu hengkang dari Jogja, dan draft stensilan itu lenyap entah kemana. Entah tercampur dengan kertas dan buku yang lain yang saya masukkan dalam satu kardus untuk dibawa pulang, entah memang tercecer dan terbuang begitu saja di gudang.

—–

Pagi tadi, masih dalam posisi setengah sadar ketika saya meraih handphone yang terus berbunyi. Ternyata Ventri yang mencoba kontak lewat private message. Memberi kabar yang dengan segera melonjakkan kesadaran hingga penuh.

“Sazano meninggal git.. 😦 “

Innalillahi wa inna ilaihi rojiiun..

“Meninggalnya udah dari Oktober kemarin, dan kita nggak ada yang tahu 😦 “

Lalu meluncurlah cerita tentang bagaimana Ventri mendapat kabar itu. Berita yang saling diteruskan satu ke yang lain. Edsen, Belle, Tantry, Ventry, saya. Kemudian saya menyadari betapa kami, semua yang dahulu sekedar terhubung melalui mIRC, lalu menghilang lenyap bersama kehidupan masing-masing, seperti kemudian berkumpul kembali, yang sayangnya justru karena berita duka. Akhirnya tersadari betapa kami satu sama lain sesungguhnya masih punya ikatan, yang meskipun sekedarnya, tetapi cukup kuat ketika kembali ditarik simpulnya. Sebuah ikatan akan ingatan. Ingatan tentang satu periode pada masa pengembangan diri.

Kabar tentang almarhum Oktarano Sazano menggelitik saya untuk kembali mencoba melacak keberadaan dia. Seingat saya, dulu dia membuat beberapa blog untuk menampung tulisan-tulisannya. Dan di blog http://patheticproject.blogdetik.com akhirnya saya bisa menemukan kembali kepingan ingatan mengenai almarhum Oktarano Sazano yang dulu pernah saya kenal itu.

Selamat jalan kawan, percayalah, kematian bukanlah apa-apa ketika kami, yang masih hidup ini tetap mengingatmu, membaca karya-karyamu. Ketika kau masih tetap ada dalam pikiran kami.

Ordinary World

Originally song by Duran Duran, remake by RED. nice video

Happiness Engineer

Setelah posting terakhir saya , agaknya memang saya lupa password apa yang terakhir kali saya pakai di blog ini. Sampai kemudian sekitar seminggu yang lalu saya coba login, dan gagal. Lalu saya coba beberapa password, salah juga. Alternatifnya, reset password via e-mail. Eh, gagal juga. Ternyata e-mail yang terpakai masih account saya di Hotmail yang sudah tidak aktif itu. *padahal itu e-mail pertama yang saya buat* 😦

Maka dengan setengah berharap, saya coba kontak ke support@wordpress.com, siapa tahu ada yang bisa dilakukan untuk mendapatkan blog ini kembali. Ya, setengah berharap. Bukan penuh berharap. Karena sepanjang pengalaman saya, kalau yang namanya support@……com itu lebih sekedar hanya formalitas dari sebuah layanan media dunia maya.

Dan….sedikit terkejut ketika ada balasan e-mail dari support@wordpress.com itu. E-mail saya dibalasnya dengan statements formal yang, bahwa anda harus coba reset password melalui e-mail yang dipakai untuk mendaftar, bahwa anda harus menggunakan API key yang disebutkan pada e-mail aktivasi waktu itu dan bla bla bla… Saya balas e-mail itu lagi dan bilang kalau e-mail saya sudah tidak aktif dan proses pemindahan e-mail dari hotmail.com ke ymail.com waktu itu ternyata belum sempurna sehingga saya sama sekali tidak bisa me-reset password menggunakan e-mail.

Singkat kata.. proses saling berbalas e-mail itu terjadi beberapa kali. Sampai pada akhirnya hari ini saya buka inbox, dan disana ada balasan dari seseorang bernama Bryan yang menuliskan

I’ve gone ahead and made an exception to update your username to reflect your working email address (********@ymail.com), and I’ve reset your password to the following:

Wow…!! Ini benar-benar menjadi Senin yang menyenangkan 😀

Well, layanan ini benar-benar membuat saya terkesan. Sebuah layanan yang memang mengedepankan kepuasan pelanggan 🙂 Bahkan untuk sebuah layanan gratis seperti ini. Saya tidak membayar sepeser pun ke WordPress.com, saya tidak menggaji para karyawannya, dan saya mendapatkan kepuasan yang tidak ternilai ini.

Mungkin sebagian orang berpikir, ini hanyalah hal kecil, remeh temeh, bukan hal besar sama sekali. Tetapi sungguh, bagi saya ini adalah sebuah hal besar. Hal besar yang berangkat dari hal-hal kecil yang kerap diremehkan, apalagi pada perusahaan besar dan berskala dunia (WordPress melayani seluruh dunia bukan? :p)

Dan istilah yang WordPress pakai untuk tim mereka yang menangani persoalan-persoalan seperti yang saya hadapi ini adalah,

HAPPINESS ENGINEER

Istilah sederhana yang ternyata sungguh pas. Mereka benar-benar membuat saya HAPPY.

Hal ini membuat saya berpikir berkali-kali tentang bagaimana (idealnya) sebuah perusahaan memberikan layanan yang terbaik bagi para customer mereka. Lalu saya membandingkan dengan perusahaan tempat saya bekerja, yang sampai saat ini terus-menerus menerima keluhan dan kritik dari para client. Saya membandingkan bagaimana mekanisme dan manajemen masalah berjalan di perusahaan saya yang jelas-jelas bergerak di bidang jasa.

Apakah perlu mengusulkan ke pimpinan perusahaan untuk membuat satu tim kerja baru yang (seperti WordPress miliki) bernama Happiness Engineer? Sehingga perusahaan ini tidak perlu tergopoh-gopoh panik dan melakukan segala cara untuk mempertahankan client dan lalu bersedia memperpanjang kontrak kerjasama? Apakah harus disusun ulang alur manajemen dan garis komando dan garis koordinasi sehingga segala sesuatunya bisa berjalan lebih efektif dan efisien? Apakah perlu perusahaan ini mengundang konsultan dari WordPress agar setiap orang bisa bekerja dengan sepenuh hati melayani?

Sepertinya…lebih baik saya membuat perusahaan sendiri, sehingga lebih leluasa mengatur ini itunya. Doakan yaa 😀