Feeds:
Posts
Comments

Kopi di air hangat

Tidak ada yang istimewa sama sekali selama akhir pekan ini. Alur yang saya jalani seperti hari-hari lainnya.

Hari Sabtu kemarin sebenarnya ada rencana nonton GodBless. Dari pertama kali saya melihat spanduknya di pinggir jalan beberapa hari lalu, lumayan heran juga. Lho..Godbless ternyata masih eksis? Karena informasinya dari spanduk yang cuma sekilas saja terbaca, saya coba untuk cari tahu kapan dan dimana. Lalu, Ooh.. ini acara gratisan di parkir timur senayan tho. Wah, yang punya hajat PAN? Hmm..apapun alasan yang dibilang, saya berpikir tentang strategi dan taktik politik PAN dengan mengundang GodBless.

Hari Kamis kemarin, saya coba sms Leodet. Siapa tahu dia mau datang ke konser GodBless juga. Tapi sayang tidak ada jawaban. Sampai akhirnya ketika sudah jamnya GodBless manggung, saya cuma duduk-duduk saja di depan komputer. Ingin pergi tapi malas. Ingin nonton tapi khawatir kalau penonton rusuh. Padahal aslinya ya penasaran banget ingin lihat para orangtua berjiwa muda manggung lagi. Sssttt… Saya pernah tidak sengaja berpapasan dengan Ahmad Albar di sekitar Tebet. Kita sama-sama jalan kaki. Uuh..meski masih terlihat segar, perubahan fisik karena usia tidak bisa lagi disembunyikan.

Malam minggu saya habiskan sisanya dengan nonton Denias lalu berlanjut blog-walking setengah jam. Habis itu, mulai ngrungkel di dalam selimut sambil masih chatting di mig33. Akhir minggu yang amat sangat biasa.

Hari Minggu. Tidak ada yang datang untuk sekedar main dan ngobrol. Teman-teman Supervisor sedang berangkat ke Klaten untuk In House Training selama 3 hari. Tidak ada yang mengajak saya untuk kembali melagukan pujian kepada Tuhan juga. :( Tapi, wah ini sih sebenarnya alasan saya saja yang betul-betul pemalas. :D

Minggu malam. Setelah makan malam saya kembali blog-walking. Berkunjung ke rumahnya si mpok untuk ngopi, lalu ke mantan bujang geografis satu ini. Sambil buka-buka blog, saya bawa gelas kosong ke lantai bawah untuk mengambil air panas dari dispenser. Sebenarnya bukan panas, tapi juga bukan hangat. Maksudnya, tentu panasnya hanya beberapa puluh derajat celcius saja, bukan air mendidih. Niatnya mau nyeduh kopi. Sayangnya, kopi instan kemasan sachet tidak langsung dibawa. Jadinya ya betul-betul hanya mengambil air saja. Bodohnya lagi, meski sudah sampai diatas lagi, saya malah asyik baca tulisan si mpok dan lupa dengan kopi. Beberapa menit kemudian baru saya ingat kalau air di dalam gelas masih nganggur. Lalu cepat-cepat saya ambil kopi. Ternyata sedikit terlambat. Air panas yang tidak begitu panas itu memang sudah terlalu dingin untuk menyeduh kopi. Hasilnya, taburan kopi instan yang saya tuangkan hanya mengapung saja di permukaan air. Diantara penyesalan, saya menikmati pemandangan baru: Melihat taburan kopi instan yang menggunung dan amat sangat pelan tenggelam ke dalam air.

Ya memang lambat sekali butir kopi racikan itu tenggelam seluruhnya. Sampai-sampai karena tidak sabar, saya aduk saja. Tapi tetap saja ada beberapa kumpulan yang masih menggumpal dan langsung terasa di tegukan pertama.

Ah, inilah yang membuat gigi saya cepat rusak. Kopi dan rokok. Meskipun rutin sikat gigi 3 kali sehari, tetap saja gigi geraham kanan bawah saya sudah ‘mengibarkan bendera putih’ selayaknya berseru: Kapan ke Dokter Gigi??

Aduh duh..

Kesunyian

Kesepian macam apakah yang telah kau alami Syam?

Tubuh ringkihmu meringkuk di bawah dipan sederhana yang kau buat sendiri dari kayu yang pohonnya pun kau tebang sendiri pula. Meski kau tahu pasti kalaupun masih bisa kau rasakan terangnya matahari, itu adalah sebuah keajaiban. Sepucuk pistol FN-45 telah memperpanjang umurmu beberapa jam. Luncuran peluru 9mm telah memaksa teman-temanmu mundur dan mengatur siasat. Ya, mereka pasti masih ingin hidup lebih lama. Tak seperti kau yang telah menyerahkan segalanya. Hidup telah betul-betul menjadi perjalanan.

Kesakitan macam apakah yang telah kau derita?

Ketika butir peluru pertama menembus dinding anyaman bamboo lalu meluncur deras masuk ke dalam tubuh. Menciptakan lubang yang melelehkan darah kehitaman. Seberapa keras tubuhmu bergetar menahan dorongan yang dipaksakan peluru itu? Apakah kepalamu mendadak menjadi pusing? Tubuhmu sontak lemas dan pandangan menjadi kabur karena darah menemukan alurnya keluar dari tubuhmu. Lalu kemudian peluru kedua masuk di bagian tubuh yang lain. Pedih macam apa yang kau terima? Lalu peluru ketiga, dan keempat, dan kelima, dan keenam. Lalu berikutnya dan berikutnya lagi. Media massa menulis, total ada sepuluh butir yang tertancap di tubuhmu. Seberapa sakitkah itu?

Ah, aku mempunyai banyak sekali pertanyaan untukmu. Sayang sekali matamu telah tertutup dan jantungmu sudah tidak lagi bekerja memompa darah ke sekujur tubuh. Damaikah hidupmu sekarang? Toh kau tidak perlu lagi berlari dan menyembunyikan diri sekedar untuk membela diri atas prinsip dan keteguhan yang kau pegang.

…You’ve really made the grade
And the papers want to know whose shirts you wear
Now it’s time to leave the capsule if you dare

Meski sudah terjadi, tak apalah kutanyakan padamu juga. Mengapa kau lakukan itu? Menguntit si gendut bermata sipit yang berlindung di dalam Mercedez S600. Kau menembaknya dari dekat segera ketika pintu mobilnya dibukakan oleh prajurit kacung yang diambilnya. Tapi, ah.. sebenarnya pula tidak terlalu jelas. Para wartawan menuliskan hal yang berbeda-beda. Apakah kau sendiri yang menembaknya, atau anakbuahmu yang begitu bodoh masih bermain perempuan di masa pelariannya?

Kau seorang prajurit. Dengan pakaian kebesaranmu, kau menyandang lambang segaris balok lurus di pundak. Itu bukan main-main. Betul betul prajurit pembela Negara. Sudah jelas pula bahwa kemampuanmu diatas rata-rata, maka itu kau diangkat menjadi Komandan. Memimpin serombongan pasukan, memberi instruksi dan mengarahkan mereka selayaknya kau bapak mereka sendiri. Yang sudah tertanam di benak dan jiwamu tentulah jiwa raga seorang ksatria. Seperti Kumbakarna dan Wibisana.

Aku tahu Negara ini masih belum memberikan kehidupan yang baik untuk prajurit sepertimu, tetapi apakah hanya karena 4 juta rupiah maka kau mengakhiri si gendut bermata sipit itu? Aku tidak percaya dengan apa yang sudah diberitakan. Terlalu banyak cerita yang disembunyikan. Prajurit berpegang teguh pada janji. Loyalitas menjadi yang utama. Lalu apa yang temanmu berikan hingga kau memilih mendengar permintaannya untuk menghabisi orang yang begitu dibencinya itu?

Pelarian yang kau pilih aku pikir memang yang terbaik daripada membusuk dan terhinakan di dalam penjara. Sipir dan prajurit kacung yang menyiksamu sedemikian rupa sama sekali tidak sepadan. Kau Komandan! Pertempuranmu jauh lebih banyak dibanding mereka. Pengalaman mereka di medan perang sesungguhnya hanyalah seujung jari. Kalau saja diberikan kesempatan untuk bertarung satu satu, dengan kekuatan fisik dan kesetaraan posisi, tentu kau bisa mengalahkan mereka. Ya, minggat dari penjara jauh lebih baik. Itu memperbaiki statusmu. Toh ujung-ujungnya akan sama saja. Kematian di hadapan regu tembak. Tentu jauh lebih terhormat apabila kau tidak dalam keadaan diborgol dan mampu memberikan tembakan balasan.

Mereka terlalu bodoh dengan mengirimkan kawanmu sendiri untuk menyergap. Mereka pikir kau begitu lemah dengan memandang hasil pertemanan di kehidupan prajurit. Tetapi, ingin kutanyakan padamu juga. Obrolan macam apa yang kalian bicarakan selama dua jam di pagi hari itu? kalian sama-sama terengah menahan luka. Sayang sekali pertemuan itu tanpa kopi hangat dan ubi rebus yang biasa kau nikmati dalam kesendirianmu di ladang itu. Ah, jika ia datang sendiri, bisa jadi kalian akan berangkulan terlebih dulu lalu bersama menunggu terang matahari jatuh ke tanah. Penderitaan disiakan politik Negara pasti membuat kalian pernah merasa senasib sepenanggungan di medan perang. Tapi dia membawa prajurit kacung yang tentu tak tahu apa apa.

Aku tertawa terbahak bahak ketika kubaca pernyataan jenderal yang dikutip wartawan,

“…Setelah dia tahu video porno, dilihat dan diulang-ulang, akhirnya dia jadi lemah.” (http://hariansib.com/2007/08/18/dalam-penyergapan-pembunuh-dirut-asaba-letda-marinir-syam-ahmad-tewas-tertembak/)

Benarkah? Ahahahahaha… jangan-jangan mereka hanya merekayasa saja. Kalaupun itu benar, tentulah pilihanmu sudah benar. Daripada mencari perempuan, lebih baik kau menikmati tubuhmu sendiri. Hanya sedikit perempuan yang mampu menahan mulutnya. Pada sebuah pelarian, kerahaasiaan adalah yang utama. Anakbuahmu lah yang bodoh. Terpergok di saung karena perempuan yang dibawanya.

Though I’m past one hundred thousand miles
I’m feeling very still
And I think my spaceship knows which way to go
Tell my wife I love her very much (She knows!)

Kesunyian macam apakah yang kau lalui selama ini? Seragam, penghormatan hirarki, dan hiruk pikuk kota adalah masa yang telah lewat. Tidak ada lagi jalan-jalan dan makan makanan cepat saji di bermacam restoran. Kegelapan malam telah menjadi saat terindah. Desir angin yang melewati rumpun bambu adalah keakraban.

Kengerian macam apakah yang kau nikmati ketika malaikat dengan tersenyum memberikan waktu sejenak agar kau bisa menelepon ibumu dan memohon maaf untuk kesalahan yang sudah dilakukan?

I’m stepping through the door
And I’m floating in a most peculiar way
And the stars look very different today

Apakah kau menikmati seluruh kesepian, kesunyian, kesakitan dan kengerian itu semua, Syam?

*seluruh gambaran dicuplik dirangkum dari berbagai berita tentang Letda (Mar) Syam Ahmad Sanusi, terpidana mati kasus pembunuhan Boedhyarto Angsono, Direktur PT. Asaba tahun 2003

*potongan lagu diambil dari lirik lagu berjudul Space Oddity, sebuah karya single David Bowie yang dirilis tahun 1969 dan diaransemen ulang oleh Helloween menjadi sebuah lagu rock melankolis di album Metal Jukebox yang dirilis 1999. Bercerita tentang tokoh astronot fiktif bernama Major Tom. Lirik lagu ini sangat naratif. Secara tekstual berkaitan dengan pendaratan Apollo 11. Paparan singkat di http://en.wikipedia.org/wiki/Space_Oddity

Lewat sebulan lalu serombongan pegawai negeri dari salah satu unit di Disnakertrans datang ke tempat kerja. Mereka mendaftar masuk kelas komputer untuk paket Office Application. Jumlahnya ada 16 orang, 13 orang perempuan dan 3 laki-laki. Kalau dilihat dari penampilannya, saya menduga mereka rata-rata diatas umur 40 tahun. Ketika mendaftar, ributnya minta ampun. Umur boleh tua tapi kelakuan mereka saya bilang tak beda dengan anak-anak SMP. Semua minta didahulukan dan tak mau terpisah dengan geng masing-masing. Si ibu A ingin gabung dengan ibu B karena rumahnya satu arah, jadi kalau pulang bisa satu bis. Si bapak, diam kalem, tapi ketika semua orang sudah terbagi kelasnya, tiba-tiba dia nyolot, “Saya dari tadi tidak ditanya. Apa dikira tidak punya hak juga? Saya ini dari tadi diam saja karena …. bla bla bla..”  Alaahh..

Hasilnya, 16 orang itu dibagi menjadi 4 kelas dengan mengacu ke kemampuan mereka. 2 kelas untuk pake Office Application (level Intermediate) dan 2 kelas untuk Microsoft Word (yang ini untuk Beginner).

Ternyata repotnya mengurusi rombongan PNS ini belum selesai. Sehari dua hari setelah proses pendaftaran, salah satu dari mereka yang jadi koordinator datang lagi, dia minta berbagai macam surat ijin, keterangan pendirian perusahaan sampai NPWP. Mungkin mentang-mentang mereka orang Disnakertrans ya. Mau tidak mau, ya diberikanlah copy surat-surat itu.

Lalu minggu berikutnya, kelas pun dimulai. Saya dan satu teman lagi yang menangani mereka. Persoalan berikutnya muncul. Tidak semuanya mematuhi pembagian kelas yang sudah disepakati bersama itu. Ibu D protes tidak ingin masuk kelas Microsoft Word karena merasa sudah pintar. Dia ingin gabung dengan teman-temannya di Kelas Office Application. Padahal waktu saya amati, lha kemampuannya ya cuma pas-pasan. Beginner bukan, Intermediate juga belum. Bapak A hanya pernah masuk sekali, lalu belum pernah masuk lagi sampai sekarang karena sakit (atau malas?). Ibu E hanya masuk dua kali, setelah itu dia absen karena kebetulan ada tugas ke Papua. Akibatnya Ibu F yang semestinya satu kelas dengan ibu E ini jadi malas masuk. Ujung-ujungnya, dia pindah kelas.

Tidak itu saja, banyak kritik yang disampaikan lewat koordinator mereka. Kebetulan saya lah yang mengajar kelasnya si koordinator itu, jadinya saya yang kena semprot duluan. “Oh, baik pak. Ya, nanti saya sampaikan ke pimpinan.”

Beberapa kritik mereka rasanya seperti dibuat-buat. Saya kesal, teman saya yang mengampu kelas lainnya pun ternyata merasakan hal yang sama. Dua minggu yang lalu baru terlihat titik terang tentang mengapa mereka begitu rewel. Bagian administrasi bilang, ternyata mereka hanya baru membayar uang pendaftaran. Biaya kursus yang janjinya akan dibayarkan setelah kelas perdana dimulai tidak ditepati. Si Koordinator susah sekali dihubungi. Panggilan ke telepon selularnya pun diabaikan. Bersamaan dengan itu, para PNS itu tidak ada yang masuk kelas sama sekali. Akhirnya Bendahara kantor lah yang coba dihubungi. Jawabannya, biaya kursus sudah turun dan dipegang koordinator. Nah..

Beberapa hari kemudian barulah si koordinator datang dan membayar. Tapi itu pun belum lunas seluruhnya. Sambil membayar, dia minta pula blangko pembayaran kosong yang sudah di cap dan ditandatangani. Lalu dia pun buka kartu. Ternyata dana yang diajukan ke Bendahara Kantor Disnakertrans telah digelembungkan 3 kali lipat lebih!! Negosiasi pun berjalan alot dan akhirnya si koordinator diminta untuk datang lagi lain waktu. “Pimpinan kami sedang ada meeting di kantor pusat pak, sebaiknya besok saja..” alasan bagian administrasi.

Kemarin sore, si koordinator  datang lagi. Saya dengar sekilas obrolannya. Ternyata dia (kembali) mengkritik kami. Mengeluarkan dalil tentang kompetensi segala macam hal aturan tetek bengek. Saya cuma tersenyum ketika bagian administrasi mengeluh.

“Gimana ini mas? Aku tidak berani keluarin kuitansi nya.”

“Ya memang seharusnya ndak usah dikeluarin. Bilang saja sama boss, biar dia yang memutuskan.  Kalau akhirnya dikasih, toh itu keputusannya si boss, bukan kamu.”

——————–

Cerita tentang betapa korupsi telah mengakar dan pelakunya bukan hanya pejabat eselon dan anggota DPR sudah terbiasa terdengar. Betapa pungutan resmi sudah sangat terbiasa ada untuk segala macam pengurusan surat. Tapi inilah kali pertama saya melihat dan merasa terlibat langsung. Dan pelakunya pun hanya PNS biasa, bukan pejabat. Paling banter mereka juga baru PNS golongan IV.

Meski berapapun besar dana yang digelembungkan adalah bentuk penyelewengan, baiklah anggap saja itu untuk uang transport. Tapi, dengan nominal berjuta-juta –katakanlah itu dibagi rata untuk semua peserta, hasilnya mendekati angka satu juta rupiah–, transport macam apa? bayar taksi dari kantor mereka ke tempat kursus tak lebih dari Rp. 20.000,- sekali jalan.

Ini baru untuk kursus. Mereka sudah menjadi PNS bertahun-tahun lamanya. Bukan tidak mungkin hal semacam ini sudah berkali-kali dilakukan. Lalu, setiap orang sudah mengantongi berapa rupiah hasil penyelewengan dana?

Weess.. saya ndak mau cawe-cawe. Pikul dosa masing-masing saja.

Secangkir kopi

…Suara radio terdengar lebih keras di tengah malam. Aku mendengarkannya dari dalam kamar. Lagu keroncong sedang diputar. Model kocokan Cuk dan Cak yang khas dan suara mendayu dayu si penyanyi terasa nyaman didengarkan. Aku membuka pintu dan melihat Bapak duduk menghadapi kertas bertumpuk berserakan di meja kerjanya. Tangannya menggenggam pena tinta hitam. Tanpa melihat, aku sudah bisa membayangkan tulisannya yang miring dan bersambung. Tegas dan mantap. Ibu berjongkok di lantai menghadapi bentangan kain yang ia coret coret dengan kapur khusus untuk kain. Berlusin stel baju seragam harus ia selesaikan sebelum tahun ajaran baru dimulai. Mereka menoleh ke arahku. “Kok bangun?” Tanpa menjawab aku menghampiri Bapak. Oh, ia sepertinya mengerjakan laporan proyek penyuluhan untuk petani. Aku tahu itu, ia mengajakku datang ke Penyuluhan yang dilakukannya beberapa waktu lalu. Kasar tangannya terasa ketika ia menyentuhku…

———————————–

“Menurut gue, waktu (masa) di malam hari itu berjalan lebih lambat ketimbang siang. Gue udah pernah coba bandingin, tidur dari jam sepuluh malam bangun jam lima pagi itu beda banget sama tidur jam tiga pagi trus bangun sekitar jam duabelas siang. Rasanya lebih puas tidur yang jam sepuluh itu. Bangun tidur rasanya seger banget dan gak ngantuk lagi. Padahal kalo diitung kan tidurnya malah lebih lama yang jam tiga itu. Coba itung aja deh, kan ….”

Bla bla bla…

Teman kerja saya berteori dengan Waktu dalam kaitannya dengan tidur. Ya ya ya… Boleh lah, lagipula dia di awal kalimat dia sudah menyatakan disclaimer nya: “Menurut gue..” Obrolan lalu berlanjut sok ilmiah dengan membahas teori relativitasnya Einstein.

Beberapa bulan terakhir ini, setiap awal bulan saya menyempatkan untuk belanja kopi instan. Satu kemasan isi 30 sachet. Cara ini jauh lebih irit daripada membeli eceran di warung. Kalau membeli eceran, harga per sachet Rp. 1.000,- sementara dengan membeli satu kemasan isi 30 sachet sekaligus itu, jatuh harganya per sachet menjadi kurang lebih Rp. 600,-. Berhemat Rp. 12.000,- :D

Kopi adalah sejenis minuman, biasanya dihidangkan panas, dan dipersiapkan dari biji dari tanaman kopi yang dipanggang. Saat ini kopi merupakan komoditas nomor dua yang paling banyak diperdagangkan setelah minyak bumi.

Saya lebih suka kopi tanpa ampas. Paling mudah didapat dengan membeli kopi instan. Kopi -non instan-yang diperoleh baik dari hasil menumbuk sendiri maupun olahan pabrik, meninggalkan ampas berupa butiran halus. Menempel di bibir atau di gigi dan membuat serak. Harus segera meminum air putih setelah meneguk kopi seperti itu. Apabila dengan terpaksa menerima suguhan kopi berampas, saya mesti meluangkan waktu untuk meminggirkan butiran ampas kopi yang menempel di bibir gelas, menciptakan celah selebar bibir agar ampas yang menempel di gelas itu tidak berpindah ke gigi dan bibir. Lagipula, untuk bujangan nomaden seperti saya, kopi instan sangat praktis. Di setiap sachetnya ada:

Ingredients / Komposisi :

Sugar, non-dairy creamer, Ind***** instant coffee

Gula, krimer, kopi instan Ind*****

Tanpa tambahan gula. Saya lebih suka cenderung pahitnya kopi instan merk kesukaan saya yang khas.

Terlalu banyak kafein dapat menyebabkan intoksikasi kafein (yaitu mabuk akibat kafein). Antara gejala penyakit ini ialah keresahan, kerisauan, insomnia, keriangan, muka merah, kerap kencing (diuresis), dan masalah gastrointestial. Gejala-gejala ini bisa terjadi walaupun hanya 250 mg kafein yang diambil. Jika lebih 1 g kafeina diambil dalam satu hari, gejala seperti kejangan otot (muscle twitching), kekusutan pikiran dan perkataan, aritmia kardiumpsikomotor ( (gangguan pada denyutan jantung) dan bergejolaknya psychomotor agitation) bisa terjadi. Intoksikasi kafein juga bisa mengakibatkan kepanikan dan penyakit kerisauan.

Saya sudah merasakan susah tidur di malam hari dari bertahun-tahun lalu. Bapak dan dua kakak saya juga suka tidur larut malam. Dan mereka penyuka kopi juga.

Insomnia is a sleep disorder characterized by an inability to sleep and/or inability to remain asleep for a reasonable period. Insomniacs typically complain of being unable to close their eyes or “rest their mind” for more than a few minutes at a time. Both organic and nonorganic insomnia constitute a sleep disorder. It can be caused by fear, stress, anxiety, medications, herbs, caffeine, depression, or bipolar disorder and sometimes occurs for no apparent reason. An overactive mind or physical pain may also be causes. Finding the underlying cause of insomnia is usually necessary to cure it. Insomnia can be common after the loss of a loved one, even months or a year after the death, if they are not grieving correctly (pretending they are over it when they are not). It very often occurs when the person has a lack of food or not enough variety of foods (such as eating one food over and over again). It is common for insomniacs to sleep walk and/ or have very vivid & intense dreams.

Barangkali ini lebih karena kebiasaan. Meski pengaruh kopi bisa jadi termasuk penyebab utama. Karena kebiasaan pula saya lebih menikmati menyelesaikan pekerjaan di malam hari. Tanpa kebisingan, tanpa gangguan telepon dari sana-sini, tanpa interupsi dari siapapun.

“Aku tak mengajakmu Rafting, soalnya aku tahu kamu bakal susah bangun pagi. Sementara jam 6 pagi semuanya sudah harus berkumpul,”

Ada rasa kecewa, tapi betul juga. Saya hanya akan merepotkan dia kalau acaranya sebegitu pagi. Bisa jadi kegembiraan yang harusnya didapat akan dicemari dengan pertengkaran kecil kami.

Secangkir kopi sudah habis. Rokok tinggal tersisa sepersekian batang. Adzan shubuh sudah lewat dari tadi. Sepagi ini, saya belum mengantuk juga.

*sumber informasi dari Wikipedia.org

Perayaan Kemerdekaan Indonesia tahun ini buat saya terasa amat sangat biasa. Tidak ada perasaan apapun, tidak ada perayaan apapun. Boleh jadi karena saat ini saya sudah tidak ada ikatan formal dengan Institusi Pendidikan manapun yang berhak mewajibkan saya untuk melakukan penghormatan tahunan. Bahkan saya tidak melongok layar kaca sedetikpun demi melihat langkah tegap para Paskibra seperti yang tahun-tahun kemarin saya lakukan.

Saya justru teringat dengan puisi Taufik Ismail yang berjudul Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia. Entah dimana dan dapat darimana tulisan itu pertama kali saya baca. Betapa keterusterangan yang menohok amat dalam itu tetap teringat di benak. Maka saat ini, saya coba jelajah ke beberapa rumah maya dan menemukan kembali teks puisi itu disini, lalu saya sadur dan tempatkan sebagai posting perdana.

Kemudian informasi tambahan tentang karya ini saya dapat dari sini :

 

Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia terdiri dari tiga bagian, yaitu Malu (Aku) jadi orang Indonesia, 46 puisi yang ditulis antara Mei-Oktober 1998; Kembalikan Indonesia Padaku, 44 puisi yang ditulis antara 1986-1995; dan Sejarum Peniti, Sepunggung Gunung, 10 puisi yang ditulis antara 1986-1995.

Dan ternyata, Tak kurang satire pula puisi ini dibalas oleh wartawan senior H. Rosihan Anwar. Anda bisa membacanya disini.

Tentu persoalannya bukan masalah malu atau tidak malu. Tapi rasanya betul juga pak wartawan ini membalas. Kita, orang Indonesia serasa berada dalam kutukan untuk berperilaku seperti ini. Kutukan yang sudah beratus-ratus tahun umurnya dan entah siapa yang akan mampu membebaskan.

fffhhh…

Ohya, maaf. Tulisan ini saya rampungkan dulu saja. Koran harian edisi hari ini belum tuntas saya baca. Tadi juga baru dibaca sekilas:

 

“Waktu itu saya sedang berada di Korea Selatan. Ketika mendengar insiden Santa Cruz (Timtim) tahun 1991. Saya yakin ini adalah awal kehancuran,” ungkap mantan Menteri Luar Negeri Ali Alatas. Alatas mengakui tidak bisa lagi mengingkari kenyataan karena insiden itu telah tersebar luas. Ia bahkan tidak mampu melakukan sedikitpun upaya untuk setidaknya “menutup” kasus serupa dengan bungkus “masalah internal”. (Harian Kompas edisi Cetak, sabtu 18 Agustus 2007. hal 37 kol 1)

« Newer Posts - Older Posts »