Ketika awal memutuskan untuk bertempat disini, saya sempat menulis tentang harapan dan doa, terutama untuk diri sendiri, agar bisa konsisten dan rutin menulis. Tetapi nyatanya, baru kali ini saya sempat (baca: menyempatkan diri) kembali menulis.
Maka akui saja bahwa saya memang payah…heuh..
Inconsistence. Inilah masalah saya. Meskipun kesadaran tentang betapa saya tidak konsisten itu sudah lama saya dapat, ternyata memang tidak mudah untuk memperbaiki hal buruk itu.
Meaning of inconsistency (noun) : state of being self-contradictory; lack of uniformity or steadiness
Pertama kali saya terima dengan legowo pernyataan bahwa saya menderita penyakit ‘inconsistence’ ini di per empat paruh akhir masa kuliah. Keluhan saya mengenai repotnya mengurus organisasi di kampus dijawab dengan tegas oleh teman akrab saya dengan berkata: Kamu gak konsisten!. Mengagetkan, tetapi melegakan. Saya tahu bahwa dia menyayangi saya dengan menunjukkan kelemahan yang ada. Alih-alih mencoba konsisten, malah saya terjebak dalam konsistensi ke-tidakkonsisten-an saya. Halah…
Dua hari yang lalu, saya mengaku jujur kepada satu teman kerja mengenai ke-tidakkonsisten-an saya itu. Pekerjaan yang terus menerus menumpuk membuat saya terus terseok-seok menyelesaikan itu semua. Dan lebih repot lagi, karena kadang saya sadar sesadar-sadarnya bahwa saya tidak konsisten. Satu pekerjaan belum juga terselesaikan, pekerjaan yang lain sudah mulai dipegang. Dan kemampuan otak saya ini memang perlu di-upgrade agar bisa terus menerus multitasking.
Satu kali boss saya pernah berujar: You should delegate your tasks to others.
Inilah satu hal lain yang masih sedikit merepotkan. Beberapa kali saya mencoba untuk membagi tugas dengan orang lain, tetapi sampai saat ini masih saja merasa belum puas. Seringkali saya mengeluh sendiri tentang apa yang dikerjakan orang lain itu tidak sesuai dengan apa yang saya pikirkan sebelumnya. Sehingga mau tidak mau, saya mesti meng-edit lagi pekerjaan yang ada. Memang sih, kemudian hari pekerjaan yang sama itu tidak lagi perlu saya edit, hanya saja akhirnya membuat saya malas untuk mendelegasikan lagi pekerjaan yang ada dengan orang lain.
saya masih harus banyak belajar mengenali diri saya sendiri sebelum mengenal dunia lebih jauh

“saya masih harus banyak belajar mengenali diri saya sendiri sebelum mengenal dunia lebih jauh”
……. saya lebih percaya: kenali diri sendiri, otomatis anda mengenal dunia…. entahlah… mungkin saya terlalu mengantuk.
Kerja tim itu perlu, bung.
Oia dan seperti yang gw bilang tadi, “terkadang emang milih untuk fokus di salah satu itu penting, biar hasilnya perfect”.
Mungkin satu dulu diselesaiin, jangan ditunda. Kalo udda selese, baru mulai yang lain.