Tidak ada yang istimewa sama sekali selama akhir pekan ini. Alur yang saya jalani seperti hari-hari lainnya.
Hari Sabtu kemarin sebenarnya ada rencana nonton GodBless. Dari pertama kali saya melihat spanduknya di pinggir jalan beberapa hari lalu, lumayan heran juga. Lho..Godbless ternyata masih eksis? Karena informasinya dari spanduk yang cuma sekilas saja terbaca, saya coba untuk cari tahu kapan dan dimana. Lalu, Ooh.. ini acara gratisan di parkir timur senayan tho. Wah, yang punya hajat PAN? Hmm..apapun alasan yang dibilang, saya berpikir tentang strategi dan taktik politik PAN dengan mengundang GodBless.
Hari Kamis kemarin, saya coba sms Leodet. Siapa tahu dia mau datang ke konser GodBless juga. Tapi sayang tidak ada jawaban. Sampai akhirnya ketika sudah jamnya GodBless manggung, saya cuma duduk-duduk saja di depan komputer. Ingin pergi tapi malas. Ingin nonton tapi khawatir kalau penonton rusuh. Padahal aslinya ya penasaran banget ingin lihat para orangtua berjiwa muda manggung lagi. Sssttt… Saya pernah tidak sengaja berpapasan dengan Ahmad Albar di sekitar Tebet. Kita sama-sama jalan kaki. Uuh..meski masih terlihat segar, perubahan fisik karena usia tidak bisa lagi disembunyikan.
Malam minggu saya habiskan sisanya dengan nonton Denias lalu berlanjut blog-walking setengah jam. Habis itu, mulai ngrungkel di dalam selimut sambil masih chatting di mig33. Akhir minggu yang amat sangat biasa.
Hari Minggu. Tidak ada yang datang untuk sekedar main dan ngobrol. Teman-teman Supervisor sedang berangkat ke Klaten untuk In House Training selama 3 hari. Tidak ada yang mengajak saya untuk kembali melagukan pujian kepada Tuhan juga.
Tapi, wah ini sih sebenarnya alasan saya saja yang betul-betul pemalas.
Minggu malam. Setelah makan malam saya kembali blog-walking. Berkunjung ke rumahnya si mpok untuk ngopi, lalu ke mantan bujang geografis satu ini. Sambil buka-buka blog, saya bawa gelas kosong ke lantai bawah untuk mengambil air panas dari dispenser. Sebenarnya bukan panas, tapi juga bukan hangat. Maksudnya, tentu panasnya hanya beberapa puluh derajat celcius saja, bukan air mendidih. Niatnya mau nyeduh kopi. Sayangnya, kopi instan kemasan sachet tidak langsung dibawa. Jadinya ya betul-betul hanya mengambil air saja. Bodohnya lagi, meski sudah sampai diatas lagi, saya malah asyik baca tulisan si mpok dan lupa dengan kopi. Beberapa menit kemudian baru saya ingat kalau air di dalam gelas masih nganggur. Lalu cepat-cepat saya ambil kopi. Ternyata sedikit terlambat. Air panas yang tidak begitu panas itu memang sudah terlalu dingin untuk menyeduh kopi. Hasilnya, taburan kopi instan yang saya tuangkan hanya mengapung saja di permukaan air. Diantara penyesalan, saya menikmati pemandangan baru: Melihat taburan kopi instan yang menggunung dan amat sangat pelan tenggelam ke dalam air.
Ya memang lambat sekali butir kopi racikan itu tenggelam seluruhnya. Sampai-sampai karena tidak sabar, saya aduk saja. Tapi tetap saja ada beberapa kumpulan yang masih menggumpal dan langsung terasa di tegukan pertama.
Ah, inilah yang membuat gigi saya cepat rusak. Kopi dan rokok. Meskipun rutin sikat gigi 3 kali sehari, tetap saja gigi geraham kanan bawah saya sudah ‘mengibarkan bendera putih’ selayaknya berseru: Kapan ke Dokter Gigi??
Aduh duh..

kopi tubruk lebih seru lagi kalo direbus sekalian (eh, jadinya bukan tubruk ding
) kalo kurang panas, bisa bikin kembung, katanya.. semoga lekas sembuh giginya yak. atau cabut saja sekalian daripada menyiksa??
hehe.. rawins nek crito pancen bedo. ayo cak.. critakno penderitaanmu dengan lebih sakit! hihihi
btw, putut ea tuh barusan masuk kompas. asik juga cerpennya. :p