Feeds:
Posts
Comments

cinta itu apa sih?

Berabad-abad kalimat itu dipertanyakan, dan hingga kini masih menjadi pertanyaan

c i n t a

terlalu banyak tragedi manusia yang diatasnamakan cinta

Semalam mendadak ada seorang teman yang bertanya, “kamu cinta banget sama dia ya?”. Jadi kaget sendiri. Setelahnya, saya bertanya ke diri sendiri. Cinta nggak sih? Lha cinta itu apa? Dari mana saya bisa dibilang ‘cinta ke dia?’

Satu-satunya deskripsi tentang itu adalah tulisan kahlil gibran yang saya baca di sebuah buku saku,

Cinta itu adalah memberi makan anjingnya

*bantu saya memaknai perasaan seperti sekarang ini*

Chatting dengan Tuhan?

Pagi ini saya cek email Yahoo dan menemukan satu e-mail forwarding dari teman dekat. Awalnya malas sekali untuk buka, karena kadang e-mail yang ter-forward dari satu orang ke orang lain dan isinya cuma hal-hal yang saya kira membuang waktu dan bandwith. Tapi e-mail forwarding yang satu ini menarik juga. Pikir-pikir, ketimbang lupa satu saat nanti kehapus, saya post disini sekalian. Sayangnya subject aslinya sudah diganti dan tidak ada sumber yang jelas tentang guyon filosofi ini.

Connecting to Heaven & Earth Messenger
Sign in…

TUHAN :
Kamu memanggilKu ?
AKU :
Memanggilmu?
Tidak.. Ini siapa ya?
TUHAN :
Ini TUHAN.
Aku mendengar doamu.
Jadi Aku ingin berbincang-bincang denganmu.
AKU :
Ya, saya memang sering berdoa, hanya agar saya merasa lebih baik.
Tapi sekarang saya sedang sibuk, sangat sibuk.
TUHAN :
Sedang sibuk apa? Semut juga sibuk.
AKU :
Nggak tau ya.
Yang pasti saya tidak punya waktu luang sedikitpun.
Hidup jadi seperti diburu-buru.
Setiap waktu telah menjadi waktu sibuk.
TUHAN :
Benar sekali.
Aktivitas memberimu kesibukan.
Tapi produktivitas memberimu hasil.
Aktivitas memakan waktu, produktivitas membebaskan waktu.
AKU :
Saya mengerti itu.
Tapi saya tetap tidak dapat menghindarinya.
Sebenarnya, saya tidak mengharapkan Tuhan mengajakku chatting seperti ini.
TUHAN :
Aku ingin memecahkan masalahmu dengan waktu, dengan memberimu beberapa petunjuk. Di era internet ini, Aku ingin menggunakan medium yang lebih nyaman untukmu daripada mimpi, misalnya.
AKU :
OKE, sekarang beritahu saya, mengapa hidup jadi begitu rumit?
TUHAN :
Berhentilah menganalisa hidup.
Jalani saja.
Analisalah yang membuatnya jadi rumit.
AKU :
Kalau begitu mengapa kami manusia tidak pernah merasa  senang?
TUHAN :
Hari ini adalah hari esok yang kamu khawatirkan kemarin.
Kamu merasa khawatir karena kamu menganalisa.
Merasa khawatir menjadi kebiasaanmu.
Karena itulah kamu tidak pernah merasa senang.
AKU :
Tapi bagaimana mungkin kita tidak khawatir jika ada begitu banyak ketidakpastian.
TUHAN :
Ketidakpastian itu tidak bisa dihindari.
Tapi kekhawatiran adalah sebuah pilihan.
AKU :
Tapi, begitu banyak rasa sakit karena ketidakpastian.
TUHAN :
Rasa sakit tidak bisa dihindari,
tetapi penderitaan adalah sebuah pilihan.
AKU :
Jika penderitaan itu pilihan, mengapa orang baik selalu menderita?
TUHAN :
Intan tidak dapat diasah tanpa gesekan.
Emas tidak dapat dimurnikan tanpa api.
Orang baik melewati rintangan, tanpa menderita.
Dengan pengalaman itu, hidup mereka menjadi lebih baik, bukan sebaliknya.
AKU :
Maksudnya pengalaman pahit itu berguna?
TUHAN :
Ya.
Dari segala sisi, pengalaman adalah guru yang keras.
Guru pengalaman memberi ujian dulu, baru pemahamannya.
AKU :
Tetapi, mengapa kami harus melalui semua ujian itu?
Mengapa kami tidak dapat hidup bebas dari masalah?
TUHAN :
Masalah adalah rintangan yang ditujukan untuk meningkatkan kekuatan mental. Kekuatan dari dalam diri bisa keluar melalui perjuangan dan rintangan, bukan dari berleha-leha.
AKU :
Sejujurnya, di tengah segala persoalan ini, kami tidak tahu kemana harus melangkah…
TUHAN :
Jika kamu melihat ke luar, maka kamu tidak akan tahu kemana kamu melangkah.
Lihatlah ke dalam.
Melihat ke luar, kamu bermimpi.
Melihat ke dalam, kamu terjaga.
Mata memberimu penglihatan.
Hati memberimu arah.
AKU :
Kadang-kadang ketidakberhasilan membuatku menderita.
Apa yang dapat saya lakukan?
TUHAN :
Keberhasilan adalah ukuran yang dibuat oleh orang lain.
Kepuasan adalah ukuran yang dibuat olehmu sendiri.
Mengetahui tujuan perjalanan akan terasa lebih memuaskan daripada mengetahui bahwa kau sedang berjalan.
Bekerjalah dengan kompas, biarkan orang lain berkejaran dengan waktu.
AKU :
Di dalam saat-saat sulit, bagaimana saya bisa tetap termotivasi?
TUHAN :
Selalulah melihat sudah berapa jauh saya berjalan, daripada masih berapa jauh saya harus berjalan. Selalu hitung yang harus kau syukuri, jangan hitung apa yang tidak kau peroleh.
AKU :
Apa yang menarik dari manusia?
TUHAN :
Jika menderita, mereka bertanya “Mengapa harus aku?”.
Jika mereka bahagia, tidak ada yang pernah bertanya “Mengapa harus aku?”
AKU :
Kadangkala saya bertanya, siapa saya, mengapa saya di sini?
TUHAN :
Jangan mencari siapa kamu, tapi tentukanlah ingin menjadi apa kamu.
Berhentilah mencari mengapa saya di sini.
Ciptakan tujuan itu.
Hidup bukanlah proses pencarian, tapi sebuah proses penciptaan.
AKU :
Bagaimana saya bisa mendapatkan yang terbaik dalam hidup ini?
TUHAN :
Hadapilah masa lalumu tanpa penyesalan.
Peganglah saat ini dengan keyakinan.
Siapkan masa depan tanpa rasa takut.
AKU :
Pertanyaan terakhir, Tuhan.
Seringkali saya merasa doa-doaku tidak dijawab.
TUHAN :
Tidak ada doa yang tidak dijawab.
Seringkali jawabannya adalah TIDAK.
AKU :
Terima kasih Tuhan atas chatting yang indah ini.
TUHAN :
Oke.
Teguhlah dalam iman, dan buanglah rasa takut.
Hidup adalah misteri untuk dipecahkan, bukan masalah untuk diselesaikan.
Percayalah padaKu.
Hidup itu indah jika kamu tahu cara untuk hidup.
………TUHAN has signed out

Kerjaan saya..?

Sekarang, umur saya mendekati 28 tahun. Tiap kali ditanya sama teman (baru), saya selalu menambahkan kalimat: “udah tua ya :-D

Respon yang saya dapat biasanya ada 2,

1. Ah, nggak juga

2. Hahaha..ngerasa juga ya kamu udah tua

Menjadi tua itu hal pasti, menjadi dewasa itu pilihan. Begitu kata orang-orang. Tapi ini bukan soal dewasa atau tua. Di umur hampir 28 ini, saya merasa masih begitu banyak hal yang belum tercapai. Masih amat sangat banyak yang mesti terus dipelajari. Semestinya, kalau “yang belum tercapai” itu sudah saya dapatkan ketika masa kuliah dan duit masih nodong ortu, bisa jadi pencapaian saya dalam hal pekerjaan dan kemampuan finansial lebih baik dari yang sekarang ada.

Alih-alih berkeluh tentang pekerjaan yang tiada habis, saya bercerita tentang penyesalan. Hehehe,..

Inconsistency

Ketika awal memutuskan untuk bertempat disini, saya sempat menulis tentang harapan dan doa, terutama untuk diri sendiri, agar bisa konsisten dan rutin menulis. Tetapi nyatanya, baru kali ini saya sempat (baca: menyempatkan diri) kembali menulis.

Maka akui saja bahwa saya memang payah…heuh..

Inconsistence. Inilah masalah saya. Meskipun kesadaran tentang betapa saya tidak konsisten itu sudah lama saya dapat, ternyata memang tidak mudah untuk memperbaiki hal buruk itu.

Meaning of inconsistency (noun) : state of being self-contradictory; lack of uniformity or steadiness

Pertama kali saya terima dengan legowo pernyataan bahwa saya menderita penyakit ‘inconsistence’ ini di per empat paruh akhir masa kuliah. Keluhan saya mengenai repotnya mengurus organisasi di kampus dijawab dengan tegas oleh teman akrab saya dengan berkata: Kamu gak konsisten!. Mengagetkan, tetapi melegakan. Saya tahu bahwa dia menyayangi saya dengan menunjukkan kelemahan yang ada. Alih-alih mencoba konsisten, malah saya terjebak dalam konsistensi ke-tidakkonsisten-an saya. Halah… :P

Dua hari yang lalu, saya mengaku jujur kepada satu teman kerja mengenai ke-tidakkonsisten-an saya itu. Pekerjaan yang terus menerus menumpuk membuat saya terus terseok-seok menyelesaikan itu semua. Dan lebih repot lagi, karena kadang saya sadar sesadar-sadarnya bahwa saya tidak konsisten. Satu pekerjaan belum juga terselesaikan, pekerjaan yang lain sudah mulai dipegang. Dan kemampuan otak saya ini memang perlu di-upgrade agar bisa terus menerus multitasking.

Satu kali boss saya pernah berujar: You should delegate your tasks to others.

Inilah satu hal lain yang masih sedikit merepotkan. Beberapa kali saya mencoba untuk membagi tugas dengan orang lain, tetapi sampai saat ini masih saja merasa belum puas. Seringkali saya mengeluh sendiri tentang apa yang dikerjakan orang lain itu tidak sesuai dengan apa yang saya pikirkan sebelumnya. Sehingga mau tidak mau, saya mesti meng-edit lagi pekerjaan yang ada. Memang sih, kemudian hari pekerjaan yang sama itu tidak lagi perlu saya edit, hanya saja akhirnya membuat saya malas untuk mendelegasikan lagi pekerjaan yang ada dengan orang lain.

saya masih harus banyak belajar mengenali diri saya sendiri sebelum mengenal dunia lebih jauh

Post pake hp?

Bisa ga ya? Ini baru coba coba dulu. Maklum, baru ngeh kalo wp pun bisa posting dari hp. Hehehe

Older Posts »