Feeds:
Posts
Comments

Ordinary World

Originally song by Duran Duran, remake by RED. nice video

Happiness Engineer

Setelah posting terakhir saya , agaknya memang saya lupa password apa yang terakhir kali saya pakai di blog ini. Sampai kemudian sekitar seminggu yang lalu saya coba login, dan gagal. Lalu saya coba beberapa password, salah juga. Alternatifnya, reset password via e-mail. Eh, gagal juga. Ternyata e-mail yang terpakai masih account saya di Hotmail yang sudah tidak aktif itu. *padahal itu e-mail pertama yang saya buat* :(

Maka dengan setengah berharap, saya coba kontak ke support@wordpress.com, siapa tahu ada yang bisa dilakukan untuk mendapatkan blog ini kembali. Ya, setengah berharap. Bukan penuh berharap. Karena sepanjang pengalaman saya, kalau yang namanya support@……com itu lebih sekedar hanya formalitas dari sebuah layanan media dunia maya.

Dan….sedikit terkejut ketika ada balasan e-mail dari support@wordpress.com itu. E-mail saya dibalasnya dengan statements formal yang, bahwa anda harus coba reset password melalui e-mail yang dipakai untuk mendaftar, bahwa anda harus menggunakan API key yang disebutkan pada e-mail aktivasi waktu itu dan bla bla bla… Saya balas e-mail itu lagi dan bilang kalau e-mail saya sudah tidak aktif dan proses pemindahan e-mail dari hotmail.com ke ymail.com waktu itu ternyata belum sempurna sehingga saya sama sekali tidak bisa me-reset password menggunakan e-mail.

Singkat kata.. proses saling berbalas e-mail itu terjadi beberapa kali. Sampai pada akhirnya hari ini saya buka inbox, dan disana ada balasan dari seseorang bernama Bryan yang menuliskan

I’ve gone ahead and made an exception to update your username to reflect your working email address (********@ymail.com), and I’ve reset your password to the following:

Wow…!! Ini benar-benar menjadi Senin yang menyenangkan :D

Well, layanan ini benar-benar membuat saya terkesan. Sebuah layanan yang memang mengedepankan kepuasan pelanggan :) Bahkan untuk sebuah layanan gratis seperti ini. Saya tidak membayar sepeser pun ke WordPress.com, saya tidak menggaji para karyawannya, dan saya mendapatkan kepuasan yang tidak ternilai ini.

Mungkin sebagian orang berpikir, ini hanyalah hal kecil, remeh temeh, bukan hal besar sama sekali. Tetapi sungguh, bagi saya ini adalah sebuah hal besar. Hal besar yang berangkat dari hal-hal kecil yang kerap diremehkan, apalagi pada perusahaan besar dan berskala dunia (WordPress melayani seluruh dunia bukan? :p)

Dan istilah yang WordPress pakai untuk tim mereka yang menangani persoalan-persoalan seperti yang saya hadapi ini adalah,

HAPPINESS ENGINEER

Istilah sederhana yang ternyata sungguh pas. Mereka benar-benar membuat saya HAPPY.

Hal ini membuat saya berpikir berkali-kali tentang bagaimana (idealnya) sebuah perusahaan memberikan layanan yang terbaik bagi para customer mereka. Lalu saya membandingkan dengan perusahaan tempat saya bekerja, yang sampai saat ini terus-menerus menerima keluhan dan kritik dari para client. Saya membandingkan bagaimana mekanisme dan manajemen masalah berjalan di perusahaan saya yang jelas-jelas bergerak di bidang jasa.

Apakah perlu mengusulkan ke pimpinan perusahaan untuk membuat satu tim kerja baru yang (seperti WordPress miliki) bernama Happiness Engineer? Sehingga perusahaan ini tidak perlu tergopoh-gopoh panik dan melakukan segala cara untuk mempertahankan client dan lalu bersedia memperpanjang kontrak kerjasama? Apakah harus disusun ulang alur manajemen dan garis komando dan garis koordinasi sehingga segala sesuatunya bisa berjalan lebih efektif dan efisien? Apakah perlu perusahaan ini mengundang konsultan dari WordPress agar setiap orang bisa bekerja dengan sepenuh hati melayani?

Sepertinya…lebih baik saya membuat perusahaan sendiri, sehingga lebih leluasa mengatur ini itunya. Doakan yaa :D

 

Let My Love

for my Laura Kristi Putri

When I looked at you at the first time
I thought you would be my girl
You looked so beautiful, you looked so perfect
You were everything to me
Day after day, I’m just thinking of you
I know I’m in love with you
But I can’t catch you
I don’t have courage, I don’t believe in myself
You were my fantasy
Something that I really wanted
Something that I couldn’t reach
Something that made me sad
Something that made me hurt
I don’t know what can I do
I can only pray to God
I just want to share my love
I just want to be with you
Let my love be burned down
Let my love be flown away
Let my love be gone by the time

by: Louis Aria Robert

Yeah just crap, good to munch it with α cigarette n hot dark coffee in lazzy sunday afternoon :p offcourse u should end all of it..coz ur mind n soul always buzzing about her :s capeeee deeeeeh

Suatu kali, beberapa minggu yang lalu. Seorang teman menuliskan kalimat diatas untuk mengomentari salah satu status singkat di akun facebook yang saya salin dari salah satu SMS terakhir. SMS yang waktu itu saya anggap, inilah benar-benar sebuah akhir. Akhir dari perjalanan sebuah percintaan. Kalimat yang saya quote diatas, berkali-kali saya iyakan, saya amini sebagai sebuah kebenaran yang tidak perlu disangkal.

Bertahun-tahun setelah dengan susah payah saya melepaskan bayangan seseorang yang dengannya saya melewati masa remaja, masa 6 tahun. Dan lalu sungguh sulit sekali untuk mendapatkan lagi perasaan yang sama, seperti perasaan yang saya alami dengannya. Berkali-kali, berganti-ganti perempuan. Sungguh, sebuah perasaan yang bahkan lebih menggetarkan dibandingkan memandangi senja yang lebih banyak berwarna pucat karena langit Jakarta tak pernah benar-benar bersih. Bertahun-tahun saya merindukan perasaan itu. Perasaan yang bahkan tak bisa terkatakan meski saya mabuk berat karena Jack Daniels masuk kedalam perut saya bersloki-sloki banyaknya.

Saya mulai mengenalnya secara pelan. Berbulan-bulan setelah sekedar say hi dan berbasa-basi sekedarnya, kami mulai mengakrabkan diri satu sama lain. Saling berkirim SMS dan menelepon. Lalu saya menemukan bahwa betapa dia dengan cepat sangat memahami saya. Mengerti kapan dan harus bertindak seperti apa untuk memahami saya, yang acap kali menjadi over-protective dan temperamental. Dan, sungguh, dia amat pintar. Pintar sebenar-benarnya pintar. Secara otak dan emosional. Dengan hebatnya dia dapat muncul di hadapan saya seperti benar-benar nyata, mencumbui saya dengan penuh kasih sayang. Lain waktu, dia dapat menghilang dan mengambil seluruh tenaga saya dan tak memberi kesempatan sekalipun, ya.. sekalipun.. untuk dapat pergi dan menemukannya.

Dia muncul di hadapan saya seperti benar-benar nyata. Meski tak sebenarnya nyata. Hanya seperti benar-benar nyata. Tetapi tak pernah menjadi nyata senyata-nyatanya. Maka saya bercinta dengan mimpi-mimpi saya..

Saya pikir, saya harus sesekali membuat dirinya nyata. Menemuinya secara langsung, menatap matanya, dan memberikan sekerat senja yang sudah saya siapkan berbulan-bulan sebelumnya. Senja yang saya potong dengan buru-buru sembaru setengah berlari mengejar kereta. Saya pikir, saya harus menjadikannya nyata, sehingga tidak sekedar mimpi saja. Tapi, apakah benar yang saya pikirkan? Betulkah apa yang saya harapkan? Dengan menjadikan dia nyata di hadapan saya, apakah saya akan tetap memiliki perasaan yang sama seperti sebelumnya? Apakah dia akan tetap melihat dan menilai saya seperti sebelumnya?

Berkali-kali saya melewatkan kesempatan untuk menemuinya secara nyata. Nyata dalam artian, tak cuma mendengarkan suaranya. Tetapi juga menatap matanya, mengelus pipinya, menggenggam hangat tangannya. Berkali-kali saya melewatkan kesempatan itu. Meski sungguh saya memiliki perasaan yang sangat mendalam, keraguan pula muncul bertubi-tubi. Apakah saya menjadi pengecut yang mengenaskan?

Ketika pada akhirnya dia kembali muncul dan mengirimkan SMS kalimat perpisahan, saya tak terlalu menghiraukan. Saya pikir, saya masih bisa tetap bersama dia, dan SMS itu hanyalah sekedar kalimat biasa. Saya pikir saya masih bisa tetap mendengarkan suaranya, membayangkan apa yang tengah dia lakukan, menenangkan tangisnya ketika masalah-masalah kehidupan datang.

Tetapi ternyata tidak. Segalanya menjadi gelap. Seperti senja yang betul-betul telah habis termakan malam, tak ada sisa sedikitpun. Saya tertegun. Selama berbulan-bulan setelah dia pergi, saya masih tetap tertegun. Baru kemudian saya menyadari bahwa kehilangan dia terasa sangat menyakitkan. Saya melewatkan banyak hal hebat yang bisa dia lakukan untuk saya. Baru kemudian saya mengerti sebenar-benarnya, bahwa perasaan saya kepadanya inilah perasaan yang saya tunggu bertahun-tahun. Sebuah kerinduan yang lebih dari sekedar keinginan dan nafsu.

Boleh jadi anda menganggap saya bodoh. Terserah pula teman-teman saya menganggap saya naif dengan berharap dia yang tak pernah benar-benar menjadi nyata, untuk kemudian menjadi nyata. Bisa jadi saya akan membentur-benturkan kepala saya ke tembok dan berharap saya benar-benar bangun dari mimpi tentang mimpi bersama dia.

Saat ini saya yakin kalau saya memang telah melewatkan sebuah anugerah nyata. Tidak peduli kenyataan ini tak benar nyata. Saya yakin bahwa kenyataan tentang perasaan saya akan dirinya adalah senyata-nyatanya nyata. Kenyataan akan ketidaknyataan, tetap saja nyata. Dan ketidaknyataan dapat menjadi nyata ketika saya merasakan segala hal dalam ketidaknyataan itu sebagai sesuatu hal yang nyata.

Maka sekali lagi saya mengamini komentar teman saya di facebook. “..ur mind n soul always buzzing about her..”. Ya, saya belum pernah benar-benar menghilangkan bayangan tentang dia dari benak saya. Entah sampai kapan..

Mata Ajaib

Cuma lengkingan saxophone yang terdengar samar. Riuh sekali. Bukan sebab ada banyak sekali orang, tetapi obrolan mereka penuh semangat. Atau mungkin memang suara musik dari speaker yang terlalu kecil. Aku tak tahu lagu apa yang sedang diputar, tak jelas juga siapa yang memainkan. Tapi aku tahu, itu jazz.

Aku teringat padamu, menangis pelan sekali pada satu malam. Pelan sekali, sampai butuh bermenit-menit memperhatikan wajahmu dan akhirnya yakin kau memang menangis. Ketika beberapa tetes airmata akhirnya mengalir dari sudut mata, aku yakin kau memang menangis.
Aku tidak diajari untuk menangis, katamu.
Hmm…

Kuperhatikan matamu. Mata yang bersinar ajaib. Mata yang sudah menarikku dalam-dalam selama beberapa tahun. Mata yang seperti mengajakku menari ketika aku pertama kali melihatnya. Mata yang selalu menantang, menunjukkan kalau pemiliknya adalah seorang yang keras, yang tidak diajari untuk menangis. Tapi dia sedang menangis sekarang. Sesekali menatapku dengan pandangan yang sulit kutebak. Banyak orang bilang, mata tak bisa menipu. Tapi sungguh aku tak tahu apa arti pandanganmu yang sesekali mengarah padaku itu. Apakah aku yang terlalu bodoh, atau matamu memang terlalu misterius bagiku? Entah.

Sampai bertahun-tahun sejak kutatap matamu untuk pertama kali, aku tak pernah bisa memahami setiap tindakanmu. Liar dan kadang begitu kasar. Lalu disaat lain, amat lembut dan memperlakukanku seandai cuma aku lelaki yang tersisa. Selalu ada hal baru yang kutemui sebelum dapat kupahami dan kumengerti sikap dan tindakanmu yang lain. Selalu seperti itu. Selama bertahun-tahun. Sampai pada waktunya, akhir yang pula menjadi awal.

Semakin malam kafe semakin dipenuhi orang-orang. Serombongan bule masuk. Beberapa diantaranya menggendong backpack. Mereka menggabungkan dua meja jadi satu. Beramai-ramai merokok, tua muda, laki-laki perempuan. Semuanya merokok. Dari baunya kurasa itu cigarillos. Sepasang dari mereka sangat mesra, berbisik dengan amat rapat sampai pipi saling menempel, bibir menggesek daun telinga. Lalu sesekali berciuman. Lalu mengisap rokok dalam-dalam dan menghembuskannya kuat-kuat keatas. Asap yang mengepul dibawah lampu. Sekilas jadi teringat tentang satu adegan di film sejarah Indonesia. Aku jadi tersenyum sendiri. Betapa sejarah dapat diukir kedalam ingatan jutaan manusia lewat sebuah film penuh skenario.

Musik masih samar terdengar. Kali ini bukan saxophone lagi. Tapi suara serak Louis Armstrong. Kalau tidak salah, Stars Fell On Alabama. Aku ingat, kau pernah bilang, tak mengerti dengan jazz. Kupingmu bukan kuping kelas borju, katamu. Ah, siapa bilang jazz cuma bisa dinikmati kaum borjuis? Kau sangkal dengan gambaran tentang jazz yang dimainkan di kafe yang menjual secangkir kopi seharga sepuluh kali harga sepiring nasi penuh lauk di warung langganan kita. Ah, aku cuma menikmati lagu sebagai lagu. Tarikan suara dan perbincangan antar alat musik yang dimainkan. Aku cuma ingin menyanyikan lagu untukmu. Aku seringkali berkhayal, ketika nanti dalam pesta perkawinan, pada malamnya akan ada sebuah keyboard, dan gitar akustik. Lalu aku mengajakmu bernyanyi. Meski aku tahu kau tak suka menyanyi dimuka umum. Aku cuma ingin menyanyikan lagu untukmu, untuk kita.

Kurasa lagu sudah berganti beberapa kali. Aku masih teringat padamu. Aku rindu tatapan matamu, yang bertahun-tahun lamanya mengikatku. Sampai akhirnya sama-sama kita menyadari kalau hidup tak sekedar jual beli perasaan di udara.

Di seberang meja agak jauh, aku melihat perempuan yang tadi duduk di depan forum. Menghadapi notebook yang tercetak logo bergambar apel di punggung layar monitornya sambil menanggapi pertanyaan dan sanggahan dari orang-orang tentang pendapatnya mengenai revolusi, perempuan dan feminisme. Aku tak mengerti sedikitpun apa yang dia bicarakan tadi. Aku bertahan duduk di dalam, mengikuti arus pembicaraan saat aku menemukan diriku yang lain. Sesuatu yang terasa asing tapi bukan hal baru. Sesuatu yang dulu pernah ada, tapi sudah hilang lama. Di kafe ini, perempuan itu sepertinya masih melakukan berdiskusi tentang yang tadi dibahas di forum. Ah, feminisme, dunia patriarki, revolusi. Aku tetap tak mengerti.

Yang aku tahu, perempuan sebenarnya tak menjadi masyarakat kelas dua. Perempuan menguasai lelaki dengan caranya sendiri. Cara seorang perempuan. Seperti dia, perempuan yang menguasaiku lewat matanya yang ajaib.

Pejaten 130710

Older Posts »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.